Pondok Pesantren sebagai Akulturasi Budaya Mencetak Hibrida Harmonis dalam Keluarga
Potret budaya
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya, mulai dari ras, suku bangsa, kepercayaan, agama hingga bahasa. Setiap daerah provinsi, kota dan/ kabupaten bahkan desa memiliki budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Sehingga hal tersebut merupakan budaya dan ciri khas dari bangsa Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika
Perbedaan tersendiri merupakan rahmat dari Allah SWT, karena dalam perbedaan akan dapat memunculkan sebuah kemufakadan yang bermanfaat dan dapat juga memuncul one solution yang mempermudah untuk menyelesaikan sesuatu yang pelik.
Kembali ke bangsa Indonesia yang terkadang terdapat polemik disebabkan keragaman perbedaan, tetapi akhirnya Indonesia mampu menyelesaikan polemik tersebut. Apa rahasianya? Rahasianya ialah karena Indonesia memiliki ideologi pancasila “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda namun tetap satu jua.
Seperti liga antara Persija Jakarta dan Persib Bandung dan atau Persebaya Surabaya dan Arema Malang, polemik ini tak kunjung usai namun mereka dapat berdamai dan bersatu dalam satu dukungan ketika Indonesia menghadapi liga dengan negara lain.
Pondok Pesantren
Kemudian wadah apa saja sih yang menjadi ajang pertemuan beragam perbedaan tersebut? Selain sebuah ajang kompetitif tingkat antar daerah, wilayah, dan budaya, salah satunya ialah pondok pesantren.
Di pondok pesantren ini lah seorang murid yang biasa disebut dengan santri akan di-gembleng berbagai keilmuan, mulai dari pendidikan umum, aqidah, akhlaq, fiqih, hingga tasawuf (filsafat).
Akulturasi Budaya
Kemudian di Pondok pesantren pula, seorang santri akan dihadapkan dengan lingkungan baru, budaya, serta teman-teman baru yang semuanya itu asing baginya. Mengapa begitu? Karena budaya pendidikan dalam pencarian ilmu menuntut seorang tholabul ilmi (pencari ilmu), seperti hadisnya beliau Ibnu ‘Adi, Abu Nu’aym:
اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
“Tuntut lah ilmu, walau ke negeri China.”
Dari sini lah banyak seorang santri yang berasal dari berbagai asal daerah, masing-masing membawa budaya, bahasa, dan watak daerahnya masing-masing.
Tak jarang dalam menjalankan rutinitasnya, seorang santri akan mengalami perbedaan pendapat yang berujung konflik dan perkelahian. Entah apa perkaranya, namun itu tak terlepas dari budaya, bahasa, dan watak daerah asalnya.
Seperti halnya budaya logat bahasa dan watak orang Batak atau Madura yang keras bertemu dengan orang Jawa (Sunda atau jogja) yang notabene berbudaya kalem (lemah lembut). Dalam tutur kata dan laku orang Batak atau Madura yang menurutnya biasa, bagi orang Jawa terkadang itu sudah keras dan melukainya. Begitu pula sebaliknya.
Namun, di pondok pesantren terdapat sosok Kiai, Ustadz-ustadzah, dan pengurus yang senantiasa mendidik, menuntun, dan memberikan contoh yang baik. Sehingga seorang santri akan dapat dan terbiasa hidup bersama dalam sebuah perbedaan.
Seorang guru mengatakan,
“pondok pesantren merupakan gambaran kecil bagi santri hidup dalam bermasyarakat secara nyata.”
Harmonisasi Keluarga
Begitu juga seorang jebolan pesantren atau santri yang telah menyelesaikan pendidikan dan pengabdiannya di pesantren. Biasanya akan melanjutkan kehidupannya di kampung halamannya (boyong), selain itu banyak seorang santri dalam momen tersebut mengutarakan niatnya untuk menikah dengan sesama santri.
Permisalan
Hal itu mengggambarkan walaupun tidak dapat dinilai secara keseluruhan, seorang santri yang notabene telah terbiasa hidup bersama dalam beragam perbedaan, ditambah dengan gelontor-an keilmuan-keilmuan di pesantren, menjadikan santri mampu beradaptasi dan membangun keluarga yang harmonis mawaddah wa rohmah.
Idealnya seorang santri juga akan menikah dengan seorang santri, sehingga akan dapat memunculkan hibrida satu keluarga yang harmonis.
Selebihnya Waallahu ’alam bishowab.