Ketika yang Tampak Alim Justru Menyimpang
Di negeri yang masih menaruh hormat tinggi pada sorban, peci, dan gelar, kita sering lupa bahwa wajah alim tidak selalu menjamin hati yang selamat. Ada manusia yang tampak suci di hadapan publik, tetapi menyimpan gelap di balik dinding-dinding yang dianggap tempat menuntut ilmu dan mendekat kepada Tuhan. Ketika ilmu kehilangan akhlak dan agama dijadikan alat untuk menundukkan ketakutan, maka yang lahir bukan lagi bimbingan, melainkan penyimpangan yang dibungkus kesalehan.
Topeng Kesalehan dan Pengkhianatan atas Nama Agama
Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap puluhan santriwati di sebuah pondok pesantren di Pati menjadi tamparan keras bagi nurani kita. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi ruang trauma. Lebih menyakitkan lagi, pelaku diduga menggunakan doktrin agama, klaim kewalian, hingga intimidasi untuk membungkam korban. Ini bukan sekadar kejahatan individu, tetapi pengkhianatan terhadap nilai-nilai agama itu sendiri. Sebab orang yang benar-benar dekat dengan Tuhan tidak akan pernah merusak, apalagi menghancurkan kehormatan manusia yang seharusnya ia lindungi. Peristiwa ini membuat kita sadar bahwa penyimpangan paling berbahaya bukanlah ketika dilakukan oleh orang yang tampak buruk, melainkan ketika dilakukan oleh mereka yang selama ini dipercaya sebagai penjaga moral. Sebab luka yang ditinggalkan bukan hanya pada korban, tetapi juga pada kepercayaan manusia terhadap agama itu sendiri.
Jauh sebelum peristiwa seperti ini terjadi, para ulama sebenarnya telah mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan pada pakaian agamanya, bukan pada banyaknya pengikutnya, dan bukan pula pada gelar yang disematkan kepadanya. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal bertanya kepada Imam Hatim bin Ashim tentang hal yang dapat menyelamatkan manusia dari buruknya dunia, jawaban beliau sejatinya adalah pelajaran tentang akhlak dan penjagaan diri dari kerakusan hawa nafsu. Sebab orang yang benar-benar dekat dengan Allah tidak akan memperalat manusia lain demi kepentingan dirinya. Ia tidak akan merendahkan harga diri orang lain, apalagi menggunakan kedudukan agama untuk menakuti dan menguasai mereka.
Nasihat Imam Hatim seakan menjadi cermin bagi banyak penyimpangan hari ini. Sebab seseorang yang benar-benar dekat dengan Allah tidak akan menjadikan manusia lain sebagai alat pemuas nafsu, apalagi menggunakan agama untuk menaklukkan ketakutan mereka. Ketika kehormatan diri orang lain dirusak demi mempertahankan kuasa dan citra kesalehan, saat itulah ilmu kehilangan ruhnya.
Di sinilah letak ironi dari banyak penyimpangan yang terjadi atas nama agama. Ketika seseorang mulai haus penghormatan, merasa dirinya paling suci, ingin dimuliakan, dan menjadikan orang lain tunduk atas nama “kesalehan”, saat itulah agama kehilangan cahayanya dan berubah menjadi alat kekuasaan. Padahal semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar rasa takutnya untuk melukai seseorang. Dari sinilah muncul pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana mungkin seseorang yang memahami agama justru dapat melanggar nilai yang dia ajarkan sendiri? Apakah ilmu memang tidak cukup menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri?
Pertarungan Akal dan Hawa Nafsu dalam Diri Manusia
Jauh berabad-abad sebelum hari ini, Ibnu Sina telah membahas persoalan serupa dalam telaahnya tentang jiwa manusia. Dalam Al-Shifa, beliau menjelaskan bahwa manusia digerakkan oleh tiga daya dalam dirinya: akal yang menimbang, syahwat yang menginginkan, dan amarah yang mendorong dominasi. Masalah muncul ketika syahwat dan hasrat kuasa mengalahkan akal. Di situlah seseorang dapat mengetahui mana yang benar, tetapi tetap memilih jalan yang salah.
Menurut Ibnu Sina, mengetahui kebaikan tidak otomatis menjadikan seseorang hidup dalam kebaikan. Ada perbedaan besar antara memahami nilai dan menjadi pribadi yang benar-benar hidup di dalam nilai tersebut. Seseorang bisa sangat fasih menjelaskan hukum agama, tetapi jiwanya belum tentu terlatih untuk tunduk kepada ajaran yang ia sampaikan. Ilmu bisa tinggal di kepala dan lisan, tetapi belum turun menjadi akhlak dan pengendali tindakan.
Di titik inilah kita memahami bahwa bahaya terbesar bukan kebodohan, melainkan ilmu yang tidak berhasil menundukkan hawa nafsu. Sebab ketika syahwat dan hasrat kuasa lebih dominan daripada akal dan kebajikan, agama dapat berubah dari cahaya menjadi alat legitimasi. Karena itu, kita perlu belajar memandang ulama secara proporsional. Ulama adalah manusia, mereka bisa mulia tetapi juga bisa salah dan jatuh. Maka jangan menuhankan mereka, tetapi jangan pula membenci semua ulama karena kesalahan sebagian orang. Yang suci adalah kebenaran dan nilai agama itu sendiri, bukan individu yang menyampaikannya.
Pesantren, Kepercayaan, dan Pentingnya Memilih dengan Jernih
Tragisnya, penyimpangan semacam ini tidak pernah berhenti pada pelakunya saja. Ia menjalar menjadi ketakutan kolektif. Banyak orang tua akhirnya mulai ragu mempercayakan anaknya kepada pesantren, seolah satu luka mampu menutupi ribuan kebaikan yang selama ini tumbuh diam-diam.
Padahal jika jujur, pesantren yang melahirkan generasi berakhlak, mendidik dengan kasih sayang, dan menjadi jembatan mimpi banyak anak jumlahnya jauh lebih banyak. Hanya saja, kebaikan sering berjalan diam-diam, sedangkan penyimpangan lebih cepat memenuhi layar dan perhatian publik. Karena itu, mungkin yang perlu dilakukan bukan menjauh dari dunia pesantren, melainkan belajar memilihnya dengan lebih jernih. Sebab solusi dari adanya penyimpangan bukan menutup pintu pendidikan pesantren, tetapi membuka mata lebih lebar saat memilihnya.
Cari tahu rekam jejaknya, kenali budaya pendidikannya, dengarkan bagaimana masyarakat sekitar berbicara tentangnya, dan jangan takut bertanya. Sebab tempat pendidikan yang sehat tidak akan alergi terhadap keterbukaan. Dan setelah anak berada di pesantren, ada satu hal penting yang perlu terus diajarkan, yaitu menghormati guru tidak pernah berarti mematikan nalar. Sebab agama tidak pernah mengajarkan kepatuhan yang membungkam akal.
Menjaga Nalar dan Melawan Taklid Buta
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam logika mistik jahiliyah. Perjalanan dibatalkan karena arah burung, keputusan perang ditentukan ramalan, bahkan bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena ketakutan dan kepercayaan buta. Saat itu, jika “orang suci” berbicara, masyarakat tidak diberi ruang untuk bertanya. Bertanya dianggap durhaka. Banyak penyimpangan bisa bertahan lama bukan hanya karena pelakunya kuat, tetapi karena lingkungan di sekitarnya terbiasa mematikan pertanyaan. Ketika seseorang dianggap terlalu suci untuk dikritik, di situlah agama perlahan berubah menjadi ruang yang rawan disalahgunakan.
Lalu di Gua Hira turun wahyu pertama kepada Nabi Muhammad dan kata pertama itu bukan “taatilah”, bukan “percayalah”, melainkan “Iqra’” bacalah. Sebuah perintah untuk berpikir, memahami, dan menggunakan akal. Selama 23 tahun dakwahnya, Rasulullah tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga memerangi budaya taklid buta yang menjadikan manusia tunduk tanpa berpikir. Setiap ramalan dibantah, setiap klaim kesucian yang kebal kritik dibongkar, karena beliau tahu: selama akal dibungkam atas nama agama atau hal ghaib, manusia akan mudah dimanipulasi.
Al-Qur’an bahkan menutup banyak ayat dengan kalimat yang sangat dalam: “laa ya’qilun“ (mereka tidak menggunakan akalnya). Bukan semata karena mereka kurang ilmu, tetapi karena mereka membiarkan akalnya berhenti bekerja. Di situlah letak bahaya terbesar dari taklid buta, bukan sekadar salah mengikuti, tetapi menyerahkan kesadaran sepenuhnya kepada manusia lain.
Refleksi
Mungkin hari ini yang sedang diuji bukan hanya kepercayaan kita kepada pesantren, tetapi juga cara kita memahami agama itu sendiri. Sebab agama tidak pernah meminta manusia untuk menutup mata dan menyerahkan akalnya sepenuhnya kepada manusia lain. Islam mengajarkan penghormatan yang sadar, bukan kepatuhan yang membuta. Karena itu, kita tidak perlu kehilangan harapan pada pesantren. Kita hanya perlu lebih jernih dalam memilih, lebih berani menjaga nalar, dan lebih dewasa dalam memandang manusia. Sebab yang suci adalah nilai kebenaran, bukan sosok yang membawanya. Sering kali, penyimpangan paling berbahaya lahir bukan dari wajah yang tampak buruk, melainkan dari topeng kesalehan yang tidak pernah berani dipertanyakan.