Ngaji Masa Kini: Kitab Kuning Vs Short Video
Di berbagai serambi masjid dan pesantren, kegiatan belajar dengan kitab kuning masih terus berlangsung dengan ritme yang sama seperti puluhan tahun lalu. Suara kyai yang mengalun menjelaskan ilmu, kitab yang terbuka, serta goresan makna yang diukir tipis tetap konsisten sepanjang masa.
Namun di saat yang bersamaan, tempat-tempat yang jauh akan rak kitab, banyak juga yang sedang menyelam di dunia maya nonstop 24/7. Nonton video pendek 30-60 detik yang mungkin tanpa sengaja lewat di fyp. Rasanya sudah cukup buat sebagian orang untuk merasa “paham” agama.
Kondisi Saat Ini
Dua kondisi yang berbeda dalam suatu masa: Satu menuntut kesabaran dan ketekunan, sedangkan yang lain menawarkan kecepatan dan keringkasan. Ilmu agama kini menjadi lebih mudah terakses, nggak perlu datang ke kajian ataupun majlis di suatu daerah.
Ketik saja “ceramah agama” di pencarian berbagai platform media. Ratusan bahkan ribuan akan muncul seketika, terserah mau pilih yang seperti apa. Tetapi di tengah kemudahan itu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: Apakah kini sudah bukan eranya kitab kuning lagi? Selain itu, apa iya ilmu agama saat ini benar-benar semakin mudah tergapai atau malah jadi semakin kehilangan kedalamannya?
Jika kamu menjawab iya, maka sebaiknya renungkan dulu beberapa pertimbangan berikut. Pertama, memang benar mencari ilmu dengan kitab kuning membutuhkan waktu yang lebih lama. Kitab kuning tidak lahir dari kebutuhan untuk cepat dipahami, tetapi dari tanggung jawab untuk tepat dimengerti.
Mengandung Dialog Ilmu
Setiap baris dalam kitab kuning menyimpan warisan para ulama dengan dialog keilmuan yang panjang. Adapun di dalamnya ada perbedaan pendapat, rujukan sanad, serta pertimbangan konteks yang tidak bisa diperas buntuk jadi satu kalimat ringkas.
Kedua, kitab kuning mengajarkan bahwa ilmu agama bukan sekadar informasi, melainkan tanggung jawab. Apa yang dipelajari tidak bisa berhenti pada sekedar “tahu”, tetapi berlanjut pada bagaimana bersikap, berbicara, dan mengambil keputusan.
Di sinilah peran guru yang tidak lagi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai penuntun cara memahami perbedaan dan menjaga kehati-hatian dalam berfatwa. Hal yang sering kali sulit digantikan oleh potongan video yang berdiri sendiri, tanpa dialog dan tanpa proses klarifikasi.
Sisi lain Short Video
Ini tidak berarti media digital sepenuhnya keliru atau harus ditinggalkan. Short video justru bisa menjadi open gate, pemantik rasa ingin tahu, atau pengingat di sela kesibukan. Namun ketika ia malah dijadikan tujuan akhir, bukan pengantar menuju pendalaman. Pada aspek itulah masalah mulai muncul. Ilmu agama menjadi berisiko apabila diperlakukan seperti kebanyakan konten yang ada: ditonton, di-like, tkemudian dilupakan begitu saja tanpa benar-benar diresapi.
Jadi, barangkali persoalannya bukan apakah kitab kuning telah usang, tapi apakah kita masih mau meluangkan waktu untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Di tengah dunia yang serba cepat, kitab kuning hadir as a reminder bahwa memahami agama tidak selalu sejalan dengan kecepatan zaman, tetapi dengan kesungguhan hati dalam menempuh prosesnya.